Saturday, 26 October 2013

Mansurdin, Guru SD Merangkap “Dokter” di Buloh Seuma

Tidak semua orang mau menghabiskan hidupnya di kampung orang nan terpencil, apalagi di daerah terisolir yang hanya dapat dijangkau dengan perahu atau boat. Tapi hal itu tidak berlaku bagi T.Mansurdin (55). Sejak tamat Sekolah Pendidikan Guru (SPG) dan usianya masih berbilang remaja, dia dengan senang hati menerima tugas mengajar di SD Buloh Seuma, Kecamatan Trumon, Kabupaten Aceh Selatan. Mengabdi selama 35 tahun di daerah terpencil dan nyaris luput dari perhatian, tak membuatnya hengkang.
Pria kelahiran 1958 itu diangkat sebagai guru SD Buloh Seuma pada tahun 1978, saat usianya baru menanjak 20 tahun. Mansurdin remaja tak mengeluh ditempatkan di daerah paling terisolir itu. Sebaliknya, dia segera mengepak barang-barangnya untuk kemudian menumpang boat milik warga Buloh Seuma dan mengantarkannya kesana.

Friday, 25 October 2013

Asal Usul Buloh Seuma

Foto: Chaideer Mahyuddin/acehkita.com
Banyak orang bertanya-tanya, mengapa di pedalaman Trumon, tepatnya di Buloh Seuma, terdapat pemukiman penduduk? Bukankah di sana mereka hidup terkurung, tidak ada akses jalan, listrik dan telekomonunikasi? Mengapa pula mereka bertahan dan tak mau direlokasi walau pada era konflik seluruh penduduk Buloh Seuma pernah eksodus ke Ibukota Kecamatan Trumon selama 3 tahun (2003-2005) sampai kemudian berlangsung perdamaian antara pemerintah RI dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) pada 15 Agustus 2005 di Helsinki?

Itulah beberapa pertanyaan yang sering muncul ketika membahas isu pemukiman paling terisolir di Aceh Selatan, Buloh Seuma yang terletak 38 km dari Ibukota Kecamatan Trumon. Walau letaknya menyatu dengan Kecamatan Trumon, namun kawasan ini tidak dapat dijangkau melalui jalur darat karena ketiadaan jalan.

Dari bincang-bincang dengan Tgk. Abidin Jal, Imum Mukim Buloh Seuma, pertanyaan-pertanyaan itu pun terjawab. “Penduduk Buloh Seuma berasal dari Banda Aceh yang merantau ke sana pada hari Kamis tanggal 5 Mei 1786. Awalnya, Tgk. Muhammad Yasin bersama 12 orang temannya dari Kutaraja mencari ikan di laut dengan sampan dan pukat,” kata Abidin.